London  

Ikuti Dan Saksikan Di Live TikTok Yusradi Usman al- Gayoni Cerak Cerak Tutur Gayo

Foto Yusradi Usman al- Gayoni di Inggris. (Ist) 

 

 

London (GAYOExpost.com)— Pusat Kajian Kebudayaan Gayo akan menyelenggarakan kegiatan cerak-cerak atau bincang/diskusi yang mengangkat tema tutur atau istilah kekerabatan dalam masyarakat Gayo.

Kegiatan bertajuk “Tutur Gayo: Pentingnya & Saat Ini?” tersebut dijadwalkan berlangsung pada Minggu malam (27/9/2026), pukul 20.00–21.30 WIB, dan dapat diikuti secara langsung melalui Live TikTok Yusradi Usman al-Gayoni.

Ketua Pusat Kajian Kebudayaan Gayo, Yusradi Usman al-Gayoni, melalui pesan WhatsApp dari Inggris, Jumat (25/9/2026), mengatakan kegiatan tersebut digelar karena penggunaan tutur Gayo di tengah masyarakat mulai mengalami penurunan.

“Cerak-cerak kali ini akan membahas tentang tutur atau istilah kekerabatan dalam masyarakat Gayo. InsyaAllah digelar lusa, Minggu malam (27/9/2026), mulai pukul 20.00–21.30 WIB, melalui Live TikTok,” kata Yusradi.

READ  Pelajar Gayo di Pakistan Sembuh dan Pulang ke Tanah Air Berkat Donasi Warga

Menurut Yusradi, selain semakin jarang digunakan, saat ini juga ditemukan kesalahan dalam penggunaan tutur di tengah masyarakat.

“Tutur yang mestinya digunakan untuk saudaranya ibu, digunakan untuk saudaranya bapak dan sebaliknya. Harusnya memanggil Pun, Ngah (rawan), Uwe (rawan), tapi dipanggil Cik,” jelasnya.

Ia menambahkan, penggunaan tutur untuk saudara laki-laki Ama juga mulai bergeser.

Umumnya, mereka dipanggil Cik, sementara sebutan seperti Ama Kul, Ama Lah, Encu, Ama Ucak, Ama Ecek, maupun sebutan yang merujuk pada tampilan fisik seperti Ama Item, Ama Utih dan Ama Onot, mulai jarang digunakan.

READ  Suara Emas dari Gayo Bergema di London, Yusradi Kumandangkan Azan di Festival Ramadan Inggris

Yusradi menyebutkan, minimnya pengenalan tutur kepada generasi muda dapat membuat anak, cucu, cicit dan generasi berikutnya semakin kurang memahami fungsi serta kedudukan tutur dalam hubungan kekerabatan.

“Anak-anak jadi tidak tahu tutur, bagaimana posisinya dalam keluarga, hubungannya dengan yang lain, dan tutur yang dipakai. Tidak jarang, sampai ada yang kerje sabe diri (menikah antarkerabat/masih punya hubungan darah),” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian karena kerje sabe diri dinilai tidak baik, khususnya jika dilihat dari sisi kesehatan dan aspek sosial.

Dalam kegiatan tersebut, Pusat Kajian Kebudayaan Gayo menghadirkan sejumlah narasumber. Dari Majelis Adat Gayo Kabupaten Aceh Tengah masih dalam tahap konfirmasi.

READ  Tiga Warga Aceh Tengah Jadi Korban TPPO, Diaspora Gayo Soroti Minimnya Respons Pemerintah

Selain itu, hadir Yusradi Usman al-Gayoni, Ketua Pusat Kajian Kebudayaan Gayo, penulis buku Tutur Gayo sekaligus inisiator World Gayonese Community/Diaspora Gayo Dunia.

Narasumber lainnya yakni Yusra Habib Abdul Gani, Direktur Institute for Ethnic Civilization Research, Denmark, sekaligus penulis buku Meretas Identitas Gayo.

Diskusi akan dimoderatori Kamaruddin, Pengurus Yayasan Pasak Reje Linge, mantan Komisioner Majelis Adat Gayo Kabupaten Aceh Tengah, penyusun TTS Gayo serta penulis buku Jirim Jisim: Aneka Sifat Manusia Dalam Perspektif Gayo.

Masyarakat dapat mengikuti dan menyimak langsung pembahasan mengenai tutur Gayo tersebut melalui Live TikTok Yusradi Usman al-Gayoni.

Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang untuk kembali mengenalkan dan membahas pentingnya tutur sebagai bagian dari hubungan kekerabatan serta kebudayaan masyarakat Gayo.