Revitalisasi Sekolah Digenjot, GMNI Soroti Mutu Pendidikan

Foto:(GMNI )Afrian Toga. (Ist) 

 

 

BENER MERIAH (GAYOExpost.com)— Pemerintah Kabupaten Bener Meriah tengah mendorong program revitalisasi sejumlah sekolah. Namun, di tengah pembangunan dan perbaikan gedung pendidikan tersebut, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Bener Meriah justru mempertanyakan persoalan yang lebih fundamental: apakah peningkatan kualitas pendidikan benar-benar ikut bergerak maju?
Ketua GMNI Bener Meriah, Afrian Toga, menilai revitalisasi sekolah merupakan langkah penting. Peserta didik berhak mendapatkan ruang belajar yang aman, nyaman, dan layak.diterima Gayoexpost.melalui siaran tertulisnya. Selasa (11/8/2026).

Namun, menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak boleh berhenti pada bangunan yang bagus.

“Sekolah bukan hanya soal tembok, atap, lantai dan fasilitas. Di dalamnya ada guru yang mengajar, ada siswa yang belajar dan ada sistem pendidikan yang seharusnya mampu melahirkan generasi berkualitas,” kata Afrian dalam rilisnya.
Ia menegaskan, pemerintah daerah harus mampu menunjukkan bahwa pembangunan fisik sekolah berjalan beriringan dengan peningkatan mutu pendidikan.

“Jangan sampai gedungnya direvitalisasi, tetapi kualitas pembelajarannya tidak ikut direvitalisasi,” tegasnya.

GMNI Pertanyakan Ukuran Keberhasilan Pendidikan
Menurut Afrian, ada sejumlah persoalan yang seharusnya menjadi ukuran keberhasilan Dinas Pendidikan Bener Meriah, mulai dari pemerataan guru, kualitas tenaga pendidik, hasil belajar siswa, prestasi akademik maupun nonakademik, kedisiplinan, hingga pemerataan layanan pendidikan.

Karena itu, GMNI mempertanyakan secara terbuka:

READ  Sekda Bener Meriah Lepas Rombongan PWI dan IKWI ke Danau Toba untuk Family Gathering

Apa indikator peningkatan mutu pendidikan Bener Meriah saat ini?
Seberapa besar peningkatan prestasi siswa?
Bagaimana pemerataan guru antara wilayah perkotaan dan pelosok?
Bagaimana perkembangan hasil belajar peserta didik?
Bagaimana nasib sekolah yang terdampak bencana?
Dan yang paling penting, sejauh mana kebijakan Dinas Pendidikan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat?
Afrian menilai pertanyaan tersebut tidak cukup dijawab dengan laporan administratif. Pemerintah harus mampu menyajikan data dan capaian nyata yang dapat diukur serta dipertanggungjawabkan kepada publik.
Sekolah Terdampak Bencana Jangan Dibiarkan Tertinggal
GMNI juga menyoroti kondisi sekolah yang terdampak bencana.

Menurut Afrian, pemulihan bangunan memang penting, tetapi jangan sampai peserta didik menjadi korban kedua karena proses pendidikan mereka ikut terganggu.

Pemerintah daerah harus memastikan anak-anak tetap memperoleh layanan pendidikan yang layak selama proses rehabilitasi sekolah berlangsung.
“Bangunan bisa diperbaiki. Tetapi jangan sampai anak-anak kehilangan waktu belajar dan tertinggal secara akademik karena penanganan pendidikan tidak berjalan seiring dengan pemulihan infrastrukturnya,” ujarnya.

Pemerataan Guru Masih Menjadi Sorotan Selain infrastruktur, GMNI menilai persoalan pemerataan tenaga pendidik juga tidak boleh luput dari perhatian.Anak-anak di wilayah perkotaan maupun pelosok, kata Afrian, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan guru berkualitas dan layanan pendidikan yang memadai.

Jangan sampai kualitas pendidikan ditentukan oleh di mana seorang anak dilahirkan dan bersekolah.

READ  Bukber PWI, Pemkab Bener Meriah Tegaskan Sinergi dengan Pers

Menurutnya, pemerintah harus memiliki peta kebutuhan guru yang jelas serta memastikan distribusi tenaga pendidik benar-benar sesuai kebutuhan sekolah.
Desak Bupati Evaluasi Plt Kadisdik dan Kabid Dikdas
Atas berbagai persoalan tersebut, GMNI Bener Meriah mendesak Bupati Bener Meriah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Plt. Kepala Dinas Pendidikan serta Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas).
Afrian menegaskan, evaluasi bukan berarti menghakimi atau mencari kesalahan seseorang.

Sebaliknya, evaluasi merupakan instrumen penting dalam pemerintahan untuk memastikan pejabat yang diberikan amanah mampu mencapai target yang telah ditetapkan.

“Kalau memang kinerjanya baik, tentu harus dipertahankan dan diperkuat. Tetapi kalau ada target yang tidak tercapai, persoalan yang tidak tertangani atau kebijakan yang tidak memberikan dampak nyata, maka harus ada koreksi,” katanya.

GMNI juga meminta Bupati tidak hanya melihat keberhasilan dari sisi serapan anggaran atau banyaknya bangunan sekolah yang direhabilitasi.

Sebab, sekolah yang bagus belum tentu menghasilkan pendidikan yang bagus jika kualitas guru, proses pembelajaran dan tata kelolanya tidak ikut diperbaiki.
Jangan Sampai Revitalisasi Hanya Berhenti di Beton
Afrian mengingatkan pemerintah daerah agar tidak terjebak pada pembangunan yang mudah terlihat secara fisik, tetapi mengabaikan hasil yang lebih penting dan berdampak panjang.

“Jangan sampai revitalisasi hanya berhenti di beton. Yang harus direvitalisasi juga adalah kualitas pembelajaran, kualitas guru, manajemen sekolah dan prestasi siswa,” tegasnya.
Menurut GMNI, pembangunan pendidikan harus memiliki dua sisi yang berjalan bersamaan: infrastruktur yang layak dan sumber daya manusia yang berkualitas.

READ  Silaturahmi Kepala KPP Bireuen dengan Wakil Bupati Bener Meriah Perkuat Sinergi Antar Instansi

Jika hanya gedung yang dibangun sementara mutu pendidikan tidak menunjukkan perubahan signifikan, maka pemerintah perlu mempertanyakan kembali efektivitas kebijakan yang telah dijalankan.
GMNI Minta Pemerintah Buka Data
GMNI Bener Meriah meminta Dinas Pendidikan membuka data capaian pendidikan secara transparan kepada publik.

Mulai dari perkembangan prestasi siswa, pemerataan guru, kondisi sekolah terdampak bencana, capaian hasil belajar hingga target peningkatan mutu pendidikan.

“Masyarakat berhak tahu. Jangan hanya diperlihatkan sekolah yang sudah selesai direvitalisasi. Tunjukkan juga bagaimana prestasi siswa, bagaimana kualitas pembelajaran dan bagaimana kondisi pendidikan di pelosok,” ujar Afrian.

Ia menegaskan, kritik yang disampaikan GMNI bukan bentuk penolakan terhadap pembangunan sekolah. Justru, kritik tersebut merupakan dorongan agar revitalisasi menjadi bagian dari kebijakan pendidikan yang lebih besar dan terukur.

Bener Meriah, kata Afrian, tidak hanya membutuhkan sekolah yang berdiri megah.

Bener Meriah membutuhkan sekolah yang mampu mendidik, guru yang mampu mengajar, sistem yang mampu mengelola, dan kebijakan yang mampu menghasilkan generasi berkualitas.

Karena itu, GMNI meminta Bupati Bener Meriah menjadikan momentum revitalisasi sekolah sebagai kesempatan untuk mengevaluasi secara menyeluruh wajah pendidikan daerah—bukan hanya bangunannya, tetapi juga orang, sistem, kinerja dan hasilnya.

Sebab, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari seberapa bagus sekolah terlihat dari luar, tetapi dari seberapa berkualitas generasi yang lahir dari dalamnya.