Yayasan Pasak Reje Linge Buka Donasi untuk Korban Longsor dan Banjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar

Foto:(Ist). 

 

 

TAKENGON (GAYOExpost.com)— Yayasan Pasak Reje Linge membuka penggalangan donasi bagi korban serta masyarakat terdampak bencana longsor dan banjir yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kegiatan donasi ini telah berjalan sejak dua hari terakhir, tepatnya sejak Sabtu lalu.

Ketua Yayasan Pasak Reje Linge, Arlina, menyampaikan bahwa donasi dapat berupa uang maupun barang. Ia berharap partisipasi masyarakat terus mengalir agar semakin banyak korban yang dapat terbantu.

“Alhamdulillah, donasi sudah berjalan sejak dua hari lalu. Bantuan bisa berupa uang atau barang. Mudah-mudahan semakin banyak yang berpartisipasi, sehingga semakin banyak pula saudara-saudara kita yang bisa terbantu,” ujar Arlina di Takengon, Senin (5/1/2026).

READ  Kapolres Aceh Tengah Turun Langsung Salurkan Bantuan Korban Bencana

Arlina menjelaskan, kebutuhan mendesak saat ini meliputi sembako, perlengkapan pengungsian seperti tenda, selimut, kasur, dan kelambu, perlengkapan dapur, obat-obatan, air bersih, serta perlengkapan sekolah bagi anak-anak terdampak bencana.

“Untuk bantuan berupa barang, masyarakat dapat langsung mengantarkannya ke Sekretariat Yayasan Pasak Reje Linge yang beralamat di Lorong Bank Aceh, Kampung Kayu Kul, Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah,” jelasnya.

Sementara itu, bagi para donatur yang ingin menyalurkan bantuan dalam bentuk uang, dapat mentransfer melalui rekening Bank Aceh Syariah nomor 05001080000114 atas nama Yayasan Pasak Reje Linge. Setiap donasi yang dikirim diminta untuk dikonfirmasi melalui nomor kontak: 081277658724 (Arlina), 081361220435 (Yusradi Usman al-Gayoni), 08116856116 (Hajar Ashwad), 082277625930 (Kamarudin), 085262563611 (Taufan Juwana), atau 082215337268 (Rahmadi).

READ  Syukri: Kita Tak Boleh Biarkan Tradisi Pacuan Kuda Gayo Pudar, DPRK Siap Kawal Aspirasi Komunitas

Secara terpisah, Pembina Yayasan Pasak Reje Linge yang juga Diaspora Inggris–Indonesia, Yusradi Usman al-Gayoni, menyampaikan ajakan solidaritas melalui pesan WhatsApp dari London, Inggris. Ia menegaskan bahwa siapa pun dapat berperan dalam membantu para korban bencana.

“Yang terpenting saat ini bukan siapa kita, tetapi bagaimana kita bisa berbuat untuk membantu saudara-saudara kita di Aceh, Sumut, dan Sumbar, terutama di Tanoh Tembuni. Apa pun bentuk bantuan yang kita lakukan, sekecil apa pun, sangat berarti bagi mereka,” ungkap Yusradi.

Inisiator World Gayonese Community (Diaspora Gayo Dunia) itu juga menilai bahwa bencana longsor dan banjir yang terjadi pada 26 November 2025 lalu memiliki dampak yang sangat luas dan berat. Bahkan, menurutnya, dari sisi cakupan wilayah dan dampak sosial, bencana tersebut jauh melampaui peristiwa tsunami Aceh 2004.

READ  Sehari, Dua Lokasi di Kute Panang Disatroni Maling: Rumah Warga dan Polindes Jadi Sasaran

“Untuk benar-benar pulih, diperkirakan membutuhkan waktu antara 3 hingga 5 tahun, itu pun jika penanganannya dilakukan secara cepat, tepat, terukur, dan optimal. Jika tidak, proses pemulihan bisa memakan waktu hingga 5 sampai 7 tahun,” jelas Yusradi.

Ia menambahkan, bantuan masyarakat akan menjadi sangat berarti, terutama setelah masa tanggap darurat berakhir dan dukungan dari luar wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mulai berkurang.

“Karena itu, solidaritas dan kepedulian kita semua menjadi harapan besar bagi para korban,” tutup Yusradi, yang sebelumnya pernah terlibat dalam Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh–Sumut serta NGO internasional asal Prancis, Handicap International.