Foto:Yusradi Usman al-Gayoni
LONDON (GAYOExpost.com)— Kebanggaan datang dari dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah. Seorang diaspora Indonesia-Inggris asal Takengon, Yusradi Usman al-Gayoni, sukses mengumandangkan azan pada penutupan Festival Ramadan yang berlangsung di Grand Sapphire Hotel & Banqueting, Croydon, London, Inggris, Kamis (19/6/2026).

Foto:Scrunsot ketika di Inggris.
Momentum tersebut terasa istimewa, karena bertepatan dengan hari terakhir ibadah puasa Ramadan di wilayah Inggris Raya yang meliputi Inggris, Wales, Irlandia Utara, dan Skotlandia.
“Alhamdulillah, bisa azan dalam festival Ramadan yang digelar selama dua hari, Rabu sampai Kamis. Terlebih, kemarin merupakan hari puasa terakhir di UK,” ujar Yusradi melalui pesan WhatsApp dari London, Jumat (20/6/2026).
Ia menceritakan, sekitar 12 menit menjelang waktu berbuka, imam sekaligus muazin yang dijadwalkan belum hadir. Melihat kondisi tersebut, Yusradi berinisiatif menawarkan diri kepada pimpinan Grand Sapphire Hotel & Banqueting.
“Saya menyampaikan kepada pimpinan hotel bahwa saya siap azan jika imam belum datang dan tidak ada yang mengumandangkan azan,” ungkapnya.
Respons positif pun datang dari pemilik hotel, Sulaiman, yang langsung menginstruksikan panitia acara untuk menunjuk Yusradi sebagai muazin magrib.
Tidak berselang lama, panitia menghampirinya dan meminta dirinya segera bersiap. Tepat pukul 18.15 GMT, saat waktu berbuka tiba, azan pun dikumandangkan dengan lancar, khidmat, dan penuh penghayatan.
Suara merdu Yusradi sukses memukau lebih dari seribu peserta yang hadir. Usai azan, berbagai pujian pun mengalir dari para tamu dan staf.
“Your voice is so beautiful,” “You did very good azan,” hingga “It was beautiful azan,” menjadi ungkapan apresiasi yang diterimanya. Bahkan, pemilik hotel turut memberikan penghargaan atas penampilan tersebut.
Bagi Yusradi, ini bukan kali pertama dirinya mengumandangkan azan di Inggris. Sebelumnya, ia juga pernah melantunkan azan di Bandara Luton dan Sutton Central Mosque.
Keberhasilan ini menjadi kebanggaan tersendiri, tidak hanya bagi Yusradi, tetapi juga bagi masyarakat Gayo dan Indonesia, yang kembali menunjukkan eksistensinya di kancah internasional melalui lantunan azan yang menyentuh hati.
