Jembatan Pelang dan Titi Merah Ditargetkan Rampung Akhir 2026, Siap Jadi Ikon Baru Aceh Tengah

Satker BPJN Aceh usai pertemuan Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR).(Ist) 

 

Takengon (GAYOExpost.com)- Pembangunan Jembatan Pelang dan Jembatan Titi Merah di Kabupaten Aceh Tengah ditargetkan selesai pada akhir tahun 2026. Kedua jembatan tersebut diharapkan menjadi ikon baru Aceh Tengah sekaligus memperkuat konektivitas wilayah, khususnya jalur yang menghubungkan Aceh Tengah melalui Geumpang ke Kabupaten Pidie, dari Kecamatan Silih Nara dan Rusip Antara.

Stetmen tersebut itu disampaikan Satker BPJN Aceh usai pertemuan Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) yang menggelar monitoring dan evaluasi (monev) percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di ruang kerja Bupati Aceh Tengah, Rabu (29/7/2026).

PPK 3.2 Satker Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah 3 Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, Chandra Erawan, mengatakan pihaknya telah menyelesaikan pekerjaan tanggap darurat pada awal tahun dan kini melanjutkan tahap rehabilitasi serta rekonstruksi permanen.

READ  Kapolres Aceh Tengah Turun Langsung, Pastikan Jagung Tumbuh Subur Dukung Swasembada Pangan 2026

“Untuk penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi terdapat 22 titik pekerjaan yang terdiri dari 19 titik longsoran dan tiga unit jembatan, yaitu Jembatan Titi Merah, Jembatan Pelang, dan Jembatan Simarara II. Insya Allah seluruh pekerjaan tersebut dapat diselesaikan pada 31 Desember 2026 sesuai spesifikasi dan mutu yang telah ditetapkan”, ujar Chandra.

Ia menegaskan, pembangunan ketiga jembatan tersebut dilaksanakan pada tahun anggaran 2026 dan ditargetkan selesai seluruhnya pada akhir tahun oleh kontraktor pelaksana PT. Adhi Karya.

Menurut Chandra, kontrak pekerjaan efektif dimulai pada 2 Juli 2026. Sebelumnya, BPJN Aceh telah melakukan penanganan darurat pascabencana di lokasi yang sempat ditinjau langsung oleh Bupati Aceh Tengah.

READ  Residivis Curanmor Beraksi di Bebesen, Kini Diamankan di Polres Aceh Tengah

Secara keseluruhan, penanganan permanen di ruas Geumpang–Pameu–Genting Gerbang–Simpang Uning mencakup 22 kegiatan dengan nilai anggaran sekitar Rp458 miliar, yang terdiri atas 19 penanganan longsoran dan tiga pembangunan jembatan.

Meski demikian, pelaksanaan proyek masih menghadapi sejumlah kendala. Di antaranya kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), sulitnya mobilisasi alat berat karena akses masih menggunakan jembatan Bailey yang memiliki keterbatasan daya dukung, serta proses pembebasan lahan.

“Kami sudah berkoordinasi dengan BPN, camat, dan masyarakat. Data kepemilikan lahan sudah lengkap dan kami berharap proses pembayaran ganti rugi dapat diselesaikan pada Agustus ini”, jelasnya.

Untuk Jembatan Pelang, pekerjaan saat ini difokuskan pada pembangunan abutmen. Struktur atas jembatan akan menggunakan rangka baja yang seluruh komponennya telah berhasil didatangkan ke lokasi.

READ  Dari 3×3 Jadi 7×8 Meter, TMMD ke-126 Ubah Rumah Warga Jadi Layak Huni

“Kami menargetkan proses ereksi rangka baja dapat dilakukan pada November sehingga pembangunan Jembatan Pelang dapat selesai sesuai jadwal”, katanya.

Sementara itu, Jembatan Titi Merah dengan panjang sekitar 160 meter diproyeksikan menjadi ikon baru Aceh Tengah. Jembatan tersebut dibangun dengan dua abutmen dan dua pilar utama.

“Jembatan Titi Merah ini kami harapkan menjadi ikon baru Aceh Tengah. Mobilisasi alat memang menjadi tantangan terbesar, namun kami optimistis pekerjaan dapat dimulai secara maksimal pada awal Agustus dan selesai pada 31 Desember 2026 sesuai target,p”, ungkap Chandra.

Ia menambahkan, pihaknya optimistis target penyelesaian dapat tercapai dengan dukungan pengalaman PT. Adhi Karya yang sebelumnya telah mengerjakan berbagai proyek infrastruktur strategis di Aceh.